Angin malam ini membisikkan setiap bisikan rindu yang ada, yah rindu kepada mu, rindu kepada sang pujaan hati. Desiran ombak laut seakan meneriakiku, mau sampai kapan disini? Menunggu mu datang menemani ku. Cinta ini berawal sejak 4 tahun yang lalu dan hanya sebuah cerita kelam tanpa kau tau rindu dan angan-anganku tentangmu. Rentan waktu yang sangat lama untuk menunggumu. Sejak saat itu masih kusimpan dalam heningnya kalbu , percakapan terakhir yang terekam dalam memori terbaik saat aku bersamamu.
“sayang, dengarkan aku! Aku akan pergi, pergi untuk kembali. Teruslah mengingatku dikala jarak memisahkan kita. Setiap hembusan rindu yang kau miliki percayalah bahwa aku sedang menemanimu dan merindukanmu juga dari kejauhan.”
Aku? Aku hanyalah seorang wanita yang bergelut dengan luka dan berselimutkan kerinduan akan sosoknya yang telah pergi, entahlah akan kah dia kembali atau tidak sama sekali?
“Kamu masih terus memikirkannya?.”
Nada suara yang menjengkelkan itu membuyarkan angan-angan ku tentangnya, aku mengkerutkan dahi dan menatapnya.
“Apalagi Fiona? Masih memikirkannya? Sudah 4 tahun berlalu, lupakan dia. Dia sudah berbahagia disana.”
Ku tuang the hangat ke dalam cangkir ku dan Mila masih saja menggerutu.
“Fio, sudah lah hentikan semua ini, tak ada gunanya memikirkan orang yang sudah tidak bersama kita lagi, kamu masih punya harapan, bertemulah teman-teman dan kembalilah seperti dulu sebelum dia bersamamu.”
“Mil, setiap malam aku menyapanya, ia terus tersenyum ke arahku, aku dan dia pernah punya cerita.”
“terserah kamu aja deh Fio.”
“udah, aku berangkat kerja yah.”
Hari kemarin, hari ini dan hari esok akan tetap sama pikirku, kali ini aku mendapat sebuah E-mail dari manager ku di kantor, yah aku di tugaskan untuk ke India. Keringat dingin membasahi baju yang ku pakai saat ini, Tidak bagaimana bisa ia mengirim ku ke India sendiri sedang untuk berbahasa India saja aku tidak bisa, oh tidak untuk berbahasa inggrispun aku hanya bisa yes, no, yes , no. Sepertinya, aku harus membicarakan hal ini pada manager ku atau tidak, aku akan mati hari ini juga.
“Fiona, ini passport dan bersiap-siaplah, saya mengandalkan mu.”
“Pak, tapi….”
Besok adalah hari keberangkatan ku ke India, ayah, ibu, Mila, Manager ku semua mengantar aku ke Bandara, tidak habis piker untuk bertanya apa aku akan baik-baik saja pun tidak sama sekali, mereka kompak mengatakan “KAMI BISA MENGANDALKANMU FIONA.”
Sesampainya, aku di India. Aku di sambut oleh beberapa rekan kerja yang akan membawa ku ke Hotel dimana aku akan menginap untuk dua minggu. Kekhawatiran mulai menghantuiku, bayang-bayang masa depan, dan gagal dalam project ini benar-benar sudah di depan mata. Aku sampai di Hotel jam 21.00.
“Tidak, dia akan marah jika aku tak menyapanya malam ini.”
“Hey kamu, gara-gara kamu aku harus kesini seandainya kemarin malam kamu datang, aku tidak harus datang ke tempat asing ini, habislah riwayat ku. Tuhan, jika aku harus mati di tanah rantauan ini semoga mayat ku bisa di pulangkan ke Indonesia, sungguh Tuhan sungguh.”
Trrrtttt, Hp ku bergetar.
“Hai, Fio. Apa kamu baik-baik saja? Oleh-oleh dari sana jangan lupa yah, kayaknya film Sahrul Khan yang terbaru asik tuh, beliin yah.”
“Mila, bukan hanya VCD Sahrul Khan yang bakal kamu dapat sebagai oleh-oleh tapi juga mayat ku.”
“Hahahaha, kamu kecapean makanya ngawur, istrahat gih jangan open mic mulu.”
“Mila, aku ga bisa bahasa Inggris apalagi India….”
Tut.. tut.. tut..
Andai saja Ady disini, aku tahu hanya dia yang mampu mengerti akan semua ini. Aku membaringkan tubuhku di atas kasur Hotel itu dan …
“Hei, aku datang di, aku tahu kamu kesepian sebabnya aku datang menjengukmu ,aku merindukanmu setiap hari, maaf telah membuatmu menunggu lama. Tersenyumlah! Karena senyumanmu membuat aku lebih bahagia menjalani hidup ini. aku menikmati kerasnya hidup karena rindu mu. aku merindukan mu lebih, selelah itukah kamu menunggu ku dulu saat sebelum kita jadian”. Tepat dibelakangku kurasakan ada seseorang yang berdiri. Apalagi ini Tuhan? Dimana-mana ku temukan rindu, kerinduanlah yang memaksaku untuk berada dalam ketidakpastian dan penantian sunyi ini. aku mulai membalikkan badan ku. Seoarang laki-laki tampan berdiri di depan ku menggunakan jeans dan kemeja coklat. Yah itu Ady, laki-laki yang membuat ku berada dalam ketidakpastian ini. aku mulai memeluknya dan memukulnya dengan tenaga ku awalnya dia hanya berdiam dan menerima perlakuanku. Sampai pada akhirnya dia mulai membisikkan “I love you and miss you so, maaf, maaf, maaf membuatmu merindukan ku banyak” jangankan menghiraukan sepenggal kalimat yang memang ku tunggu untuk berdiri dengan kedua kakiku saja aku rapuh, yah aku rapuh dalam pelukan hangatnya pelukan rindu darinya. Dia mulai melepaskan pelukannya dan membiarkan mataku dan matanya bertatap rindu, haru, dan hanyut dalam air mata. Ady hilang dalam pandangan ku, aku berusaha mencari Ady tapi tak ku dapatkan dia lagi hingga akhirnya aku tersungkur di depan pusara nya. Tidak dy, kamu masih memeluk ku tadi. Tidakkkkk. Ady, yang kurindukan sudah pergi, pergi membawa separuh hati ku, pergi membawa setiap kenangan yang ada, pergi di pelukan Tuhan yang sangat menyayangi nya. Sejak saat itu aku duduk di pusara Ady dan aku tahu yang ku peluk tadi adalah bayang-bayang imajinasi yang ku bentuk sendiri. Tepat tanggal 18 november 2012.Sebenarnya aku sudah melupakan hari ini! Hari dimana kamu pergi menyapa langit dengan mudah! Hari dimana aku mengucapkan"bangun" untuk terakhir kali. Sudah beberapa tahun terakhir ini, aku berusaha mengubur semuanya, tapi entah? Aku masih belum bisa,kusempatkan waktu ku menulis beberapa harapan untuk mu disana. Aku merindukan mu banyak sekali. tapi, sekarang aku berusaha melupakanmu dua kali lipat dari rindu itu. Teringat canda,tawa, lelucon konyol hari itu yah hari itu. Ikhlas? Aku belajar, bahkan aku harus terjatuh beberapa kali waktu itu. Sabar? Aku sabar, bahkan aku membiarkanmu terbungkus kain putih dan tertimbun tanah hari itu. Kini, aku menyapamu lewat langit.
Tidakkkkk, Ady! “seperti biasa aku terus mengingat masa kelam itu lagi Tuhan, aku tahu aku bermimpi sama seperti sebelumnya.”
Ku balikkan badanku Tidak, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan aku harus meeting. Semua ku lakukan dengan cepat, aku pergi ke tempat meeting. Bodoh, semalaman aku hanya memikirkan dengan apa mayat ku akan di pulangkan ke Indonesia? Siapa yang akan mengurus? Dan sebagainya hingga akhirnya aku harus terburu-buru.
“Excuse me, your shoes is wrong, one of your shoes you used red and another one you used yellow, hahahha.”
“What?.”
“Your shoes?” sambil menunjuk ke arah sepatu ku.
“astaga, aku tahu hari itu akan kiamat aku salah memakai sepatu, hahahha this is style in Indonesia”
“Oh, you are from Indonesia, I am Ravi, from India.”
“Yes, yes.Fiona. saya harus pergi, mari”
Cepat-cepat ku tinggalkan Ravi, sesekali aku menoleh kebelakang benar sekali dia sedang menggaruk-garuk rambutnya entah karena bingung atau karena ketombe entahlah. Ku harap aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Aku mengganti sepatu ku dan berjalan-jalan menghirup udara sore di India, ternyata India tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Lama-lama aku merasa nyaman berada di sini.
“Hey, Fiona? What are you doing?.”
“hahaha, acca-acca tumpa si ae.”
“What? I ask you, what.. are .. you.. doing?
Aku membuka kamus portable dan mengecek kata doing.
“Oh, yes I walking hirup udara segar karena di hotel penat.”
Ravi terus tertawa melihat tingkah ku entah karena aku terlihat begitu konyol atau bahkan aku kelihatan gila di hadapannya. Aku memutuskan untuk berjalan dengannya hari itu, dia mengajak ku ke berbagai tempat di India termaksud mengunjungi keajaiban dunia Taj Mahal. Aku mulai membayangkan ada Sahrul Khan yang sedang bermain biola seperti di film Mohabbaten. Aku tersenyum malu, aku terus berbicara bahasa Indonesia dan Ravi berbicara bahasa Inggris dan Bahasa India, sepertinya dia juga kurang lancar berbicara dalam bahasa Inggris. Entahlah, apa yang sedang kami bicarakan yang jelas aku sangat bahagia, aku mempunyai teman di India.
Selama seminggu aku di India, Ravi selalu menemaniku di sela waktu luang ku, kami menghabiskan waktu dengan menyatukan budaya dan bahasa yang berbeda, terasa aneh ketika kamu terus mengoceh dengan bahasa Indonesia dan dia dengan bahasa India.
“Fiona, I love you.”
“Apa?.”
“I love you.”
Tersentak aku menjatuhkan gelas ku, aku menatap Ravi dalam beberapa menit dan aku tahu aku menemukan ady dalam sosok Ravi. Tapi, bagaimana aku bisa bersamanya dengan keadaan seperti ini, aku tahu ini tidak akan mudah.
Besok adalah hari dimana aku harus kembali ke Indonesia, aku merasakan sesuatu yang aneh, aku akan kehilangan Ravi. Aku terus menangis di bahunya malam itu, dia hanya mengusap pelan pipiku kemudian berbisik dengan bahasa planet itu lagi dan aku hanya bisa mengangguk, aku tahu dia merasakan hal yang sama.
Aku kembali ke Indonesia, aku merindukan Ravi. Aku terus menghubunginya tapi sudah beberapa hari ini nomornya tidak bisa di hubungi. Aku mulai berpikir, aku tahu dia pun akan lelah menjalani ini. Aku mulai mempelajari bahasa India, aku membeli kamus bahasa India dan mempelajari kata demi kata. Aku mencoba mengirim E-mail ke ravi.
Namaskar Ravi,
Kaisi ho? Thik hun, itne dino se tum kahan thi? Bhol sakta hun lakin kewal thoda. Mere pas samay hai makanya saya mengirim E-mail untuk kamu.
FIONA
Beberapa saat kemudian, aku mendapat sebuah balasan.
“Fiona, aku senang membaca E-mail kamu, aku juga bisa bahasa Indonesia, hum tumhe pyar karte hae, fiona.”
Aku menutup E-mail itu dengan tersenyum, sekarang ku buka lembar baru ku bersama Ravi, aku akan siap dengan setiap konsekuensinya. Cinta adalah ketulusan dan saling memahami, kami akan mengajarkan kepada mereka bagaimana cinta tidak melihat sisi perbedaan Negara, budaya, bangsa dan kebiasaan.
“Ravi, perbedaan Negara, Budaya dan kebiasaan ini tidaklah mudah, kayaknya kita harus berkerja ekstra untuk mempertahankan hubungan ini. Terimakasih sudah mengajarkan ku arti melengkapi dan mencintai perbedaan, hum tumhe pyar karte hae, Ravi, I love you dan aku cinta kamu.