Aku membanting beberapa gelas, jelas saja ia terus memarahi ku.
Selalu berkata "aku capek! Jangan banyak nanya".
Lantas aku ini apa bagi mu? Hanya figura yang sesekali dapat kau lihat saat ada waktu senjang mu?
Rasanya ingin bergegas pergi dan meninggalkan semuanya. Untuk mengkhawatirkan sakit ku saja tidak. Tak bisa kah kau romantis?
"Sudahlah jes, kita udah sama-sama dewasa. Jangan bertingkah!" dia menggerutu sedari tadi hampir saja ku bungkam mulut nya dengan tissu.
Aku menatap wajah lelahnya, rasa iba dan sayang itu muncul dalam balutan kekekhawatiran.
"Nih tissu, ada keringat di kerutan dahi mu"
"Makasih sayang", katanya lirih
"Iyah, kamu capek?
"Ga kok, cuma agak lelah aja".
"Bedanya?"
"Gaadasih, aku pulang yah. Besok aku kesini lagi".
Ia pergi, aku terus memandangnya berharap ia baik-baik saja. Sesekali aku berharap ia akan berhenti dan berkata "love you".
Tapi itu tidak akan terjadi hanya karena aku memohon sambil menangis pada bintang jatuh.
Tak bisa kah kau romantis?
Hari itu, aku sakit. Aku yakin akan seperti biasanya kali ini tenggorokan ku sakit seakan malaikat maut menarik ulur. Ia datang menjenguk ku dan bertanya seperti biasa, "sayang, sakit yah? Makan gih, paksain".
Aku menggeleng menandakan aku gabisa.
Aku merasa aku haus, diatas meja hanya ada segelas air putih dan pipet. Bagaimana aku akan meminumnya dengan keadaan begini? Pikirku. Ia menatap ku, rasanya rasa haus ku hilang sesaat karena tatapan itu.
"Minum?."
Aku menggelengkan kepala ku lagi.
"Pake pipet aja yang, usahain."
Aku menepis pipet yang ia berikan. Aku terdiam, dia terdiam. Aku takut ia akan marah.
Aku melihatnya membersihkan tangannya dengan tissu di atas meja belajar ku. David menuangkan air ketangannya dan memintaku untuk minum dari tangannya. Aku melakukannya. Ku usap air mata yang menggenang di pelupuk mata ku, untuk pertama kalinya ia melakukan ini.
David, membawaku berjalan-jalan mengelilingi taman siang itu. Panas terik matahari seakan membakar kulit tubuh ku, lagi dan lagi David menggunakan tangannya untuk menutupi kepala ku, bahkan sesekali ia menghalangi matahari untuk tidak mengenaiku. Ada kah yang lebih romantis dari ini?.
Kami berhenti dan duduk di bangku taman.
"Sayang, maaf karena aku tak bsa seperti yang lain. Aku hanya bisa memanggil mu sayang tanpa bertanya apa kau baik-baik saja? Kau terus merawat ku dengan tangan halus mu dan aku? Hanya melambaikan tangan ku ketika aku pergi meninggalkan mu. Kau terus mencintai ku dengan segala perhatian mu sedang aku? Aku mencintaimu dalam diam tanpa tahu apa yang di inginkan pacar ku".
Aku memeluknya erat dan berkata "tetaplah seperti itu, tanpa harus romantis. Aku mencintai mu tanpa syarat, maaf karena aku sempat mengagungkan keegoisanku hanya karena iri terhadap teman-temanku, maaf. Love you"
"Love you too, cepat sembuh yang".
No comments:
Post a Comment